Minggu, 12 Februari 2017


 

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN KLASIFIKASI SECARA UMUM
KLASIFIKASI TUMBUHAN

Oleh:
Ni Putu Ratih Saptandari
1612311015 D3 Perpustakaan


ABSTRAK 
Tugas ini dibuat bertujuan untuk memperkenalkan sejarah dan perkembangan klasifikasi karena dengan adanya klasifikasi kita bisa membedakan benda atau makhluk hidup apa yang memang sudah dikelompokkan sejak awal. Memudahkan manusia mencari dan mengetahui apa yang memang sudah dikelompokkan. Dan bisa mengumpulkan benda atau makhluk hidup yang sama, serta memisahkan benda atau makhluk hidup yang tidak sama. Dimana klasifikasi sudah dilakukan manusia setiap harinya karena klasifikasi adalah bagian dari manusia yang tanpa disadari melakukan klasifikasi setiap hari. Maka dari itu klasifikasi sangat penting ada dalam kehidupan agar manusia bisa mengkelompokkan sesuai jenis dan sifat makhluk hidup.

Kata Kunci : Pengertian Klasifikasi, Sejarah dan Perkembangan Klasifikasi Tumbuhan


LATAR BELAKANG
Klasifikasi adalah pengelompokkan makhluk hidup golongan – golongan ini disusun secara runtut sesuai dengan tingkatannya. Mulai dari yang lebih kecil tingkatannya hingga ke tingkatan yang  lebih besar. Klasifikasi itu adalah suatu proses memilih dan mengelompokkan benda tertentu serta diletakkan secara bersama – sama disuatu tempat yang memang sudah ditentukan. Agar manusia tidak mengalami kesulitan untuk mencari benda atau yang mereka cari maka dari itu klasifikasi sangat diperlukan dalam kehidupan sehari – hari.
            Klasifikasi selalu mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada awalnya makhluk hidup hanya dikelompokkan menjadi dua kingdom (kerajaan), yaitu plantea (tumbuhan) dan animalia (hewan). Jamur masih digolongkan kedalam kelompok tumbuhan. Kemudian diketahui bahwa jamur ternyata tidak berklorofil dan dinding selnya dari khatin, sedangkan tumbuhan dari sellulosa. Selanjutnya, makhluk hidup dibedakan menjadi 3 kingdom, yaitu fungi (jamur), plantea dan animalia. Sekitar 250 tahun lalu ahli botani asal Swedia Carolus Linnaeus klasifikasi makhluk hidup berdasarkan kepada penampakan fisiknya. Sebelumnya pun sudah ada metode klasifikasi namun tidak lengkap dan sebagus yang diusulkan oleh Linneaus
Namun perkembangan pesat teori evolusi terutama dengan berbagai penemuan fosil diabad lalu, makin menunjukkan klasifikasi berdasar kemiripan dari Linneaus ini tidak cukup bagus lagi karena adanya penemuan dari abad Willi Hennig, entomology dari Jerman 1990-an memperkenalkan cladistik, suatu metode penentuan cabang dalam pohon kehidupan. Pengelompokan semua organisme hidup oleh Carl von Linne (Latin: Carolus Linnaeus), dibuat tingkatan  taksonomi yang terdiri dari enam takson. Setelah para ahli mengetahui struktur sel (susunan sel) secara pasti, makhluk hidup dikelompokkan menjadi empat kerajaan, yaitu Prokariot, Fungi, Plantae, dan Animalia, Pengelompokan ini berdasarkan ada tidaknya membran inti sel. Sel yang memiliki membran inti disebut sel eukariotik, sel yang tidak memiliki membran inti disebut sel prokariotik.
Makhluk hidup merupakan suatu organisme yang dapat mempertahankan dirinya dari berbagai perubahan lingkungan dan dapat berkembangbiak untuk melestarikan jenisnya.



Pengertian Klasifikasi

Klasifikasi berasal dari kata Latin “classis”. Klasifikasi adalah proses pengelompokan artinya mengumpulkan benda/entitas yang sama serta memisahkan benda/entitas yang tidak Dapat dikatakan bahwa batasan klasifikasi adalah usaha menata alam pengetahuan ke dalam tata urutan sistematis. Klasifikasi merupakan bagian kegiatan manusia. Manusia bernalar. Untuk dapat melakukan penalaran, manusia harus memiliki kemampuan mengklasifikasi. Untuk membedakan objek, manusia harus memvisualisasi atau mengamat – amati objek. Klasifikasi itu suatu proses memilih dan mengelompokkan benda atau makhluk hidup tertentu serta diletakkan secara bersama – sama disuatu tempat yang memang sudah ditentukan. Agar manusia tidak mengalami kesulitan untuk mencari benda atau yang mereka cari maka dari itu klasifikasi sangat diperlukan dalam kehidupan sehari – hari. Klasifikasi merupakan bagian kehidupan manusia. Walaupun demikian banyak orang tidak menyadari bahwa mereka melakukan pengklasifikasian setiap hari. Misalnya dalam membeli buah, manusia membedakan buah jeruk dan buah apel yang memang dari awal sudah dikelompokkan agar kita mudah untuk memilih buah tersebut.

Sejarah dan perkembangan klasifikasi

Klasifikasi selalu mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada awalnya makhluk hidup hanya dikelompokkan menjadi dua kingdom (kerajaan), yaitu plantea (tumbuhan ) dan animalia (hewan). Jamur masih digolongkan kedalam kelompok tumbuhan. Kemudian diketahui bahwa jamur ternyata tidak berklorofil dan dinding selnya dari khatin, sedangkan tumbuhan dari sellulosa. Selanjutnya, makhluk hidup dibedakan menjadi 3 kingdom, yaitu fungi (jamur), plantea dan animalia.

1. Pada zaman sebelum Aristoteles, taksonomi ini belum tertulis sehingga di komunikasikan secara lisan saja. Dasar yang digunakan untuk klasifikasi adalah hasil observasi dan kegunaan dari objek, misalnya pengelompokan hewan berbahaya dengan hewan tidak berbahaya; hewan yang berguna, tumbuhan obat-obatan, tumbuhan pangan dan lain sebagainya.
2. Zaman Aristoteles, pada zaman ini telah dimulai berupa ilmu, sudah muncul karya tulis mengenai hewan dan tumbuhan, mempunyai dasar yang jelas. Tetapi belum terorganisir, sehingga muncul suatu organisme sejenis dengan bermacam-macam nama (sebutan) dan jenis yang sama mempunyai nama yang berbeda.
3. Pada abad ke 17 John Ray, seorang ahli bangsa Inggris mulai mengembangkan sistim yang lebih jelas dan lebih dapat dipercaya kebenarannya karena sudah mempunyai dasar pengertian jenis (spesies). Jenis adalah kelompok individu yang serupa, mempunyai  yang sama; suatu jenis tidak dihasilkan oleh jenis yang lain ; organisme memperlihatkan perbedaan yang kecil dapat dimasukkan ke dalam suatu jenis yang berasal dari nenel moyang yang sama.
4. Pada abad ke 18 Carolus Linneaus, seorang ahli bangsa Swedia mengembangkan sistem klasifikasi John Ray. Menurut Linneaus yang dimaksud dengan spesies adalah sekelompok organisme yang mempunyai bentuk tubuh, susunan alat gerak dan susunan alat dalam yang sama, suatu spesies tidak akan pernah mengalami perubahan.
5. Setelah munculnya teori evolusi, maka klasifikasi dilakukan tidak hanya berdasarkan persamaan strukturnya saja, tetapi juga berdasarkan atas asumsi bagaimana suatu bentuk kehidupan itu berasal atau berevolusi dari bentuk kehidupan yang lain. Di dalam teori evolusi sebenarnya telah termaktub suatu gagasan bahwa organisme yang mempunyai struktur yang sama mempunyai hubungan kekerabatan yang erat. Jadi persamaan struktur tetap dipergunakan sebagai dasar pengelompokkan. Perbedaannya adalah sekarang ini orang menginterprestasikan persamaan tersebut berdasarkan teori evolusi. Klasifikasi yang memasukkan teori evolusi ini disebut klasifikasi filogeni.

Klasifikasi praktis yang berdasarkan kegunaan dan klasifikasi empiris yang berdasarkan pengamatan di lapangan (hewan air, hewan bertelur, hewan beranak, dll) masih banyak dipakai sampai sekarang sebagai klasifikasi regional atau nasional. Hal ini terbukti banyaknya buku yang ditulis khusus untuk membicarakan sekelompok organisme, seperti tanaman hortikultura, tanaman obat-obatan, serangga hama pada tanaman padi, dan lain-lain. Tetapi klasifikasi yang dipakai secara Internasional harus telah mempunyai tata cara ilmiah yang akan dipelajari pada pelajaran selanjutnya. 
Seperti yang telah diungkapkan pada awal bahasan ini, bahwa klasifikasi atau sistematik ini hanya buatan manusia yang bertujuan untuk memudahkan dalam mempelajari organisme yang ada di bumi ini, oleh karena itu klasifikasi yang ada lebih dari satu.

Perbedaan klasifikasi ini terjadi karena :

1. Sangat kompleknya keanekaragaman organisme yang diklasifikasikan
2. Dasar dan tujuan dari klasifikasi yang berbeda
3. Keterbatasan ilmu yang menyusun klasifikasi
4. Perbedaan persepsi dan kebijaksanaan dalam menentukan ciri dan sifat yang digunakan untuk dasar   klasifikasi.
5. Keterbatasan data yang dijumpai oleh si pembuat klasifikasi
6. Kemajuan ilmu pengetahuan yang dapat menambah kelengkapan data. Pada klasifikasi terakhir ini orang selalu mengaitkan pada keanekaragaman struktur morfologi, anatomi, fisiologi, habitat dan evolusi.

Pada abad ke 18 (sekitar 250 tahun lalu), Carolus Linnaeus, ahli Botani warga swedia, memperkenalkan klasifikasi makhluk hidup berdasarkan kepada penampakan fisiknya. Sebelumnya pun sudah ada metode klasifikasi namun tidak lengkap dan sebagus yang diusulkan oleh Linneaus. Setiap organisme sejenis masuk dalam kelompok species, species kepada genus, setiap genus ke family tertentu yang urutan klasifikasi dari atas : Kingdom, phylum, class, ordo family, genus, species. Suatu yang khas terjadi pada masa itu, biology pun dicampur adukkan dengan teologi, Linneaus pun pernah mengatakan “Tuhan menciptakan, Linneaus mengklasifikasikan”. Kemudian munculah Darwin dengan teori evolusinya bahwa kehidupan di Bumi ini berhubungan erat dengan pohon evolusi raksasa, dengan organisme ber sel satu dibagian akarnya dan species yang survive di masa ini ada di puncaknya. Antara akar dan puncak pohon terdapat jutaan (kalau tidak milyaran) cabang yang menunjukkan masa – masa sejarah berkembangnya makhluk hidup. Taxonomi dan Linneus ini pun tetap dipakai karena sistem klasifikasi berdasar kemiripan ini sesuai dengan apa yang menjadi fakta evolusi juga : makhluk hidup yang mirip cenderung ‘berkerabat dekat’.

Namun perkembangan pesat teori evolusi terutama dengan berbagai penemuan fosil diabad lalu, makin menunjukkan klasifikasi berdasar kemiripan dari Linneaus ini tidak cukup bagus lagi. Misalnya Willi Hennig, entomology dari Jerman 1990-an memperkenalkan cladistik, suatu metode penentuan cabang dalam pohon kehidupan.
Pengelompokan semua organisme hidup oleh Carl von Linne (Latin: Carolus Linnaeus), dibuat tingkatan  taksonomi yang terdiri dari enam takson, yaitu :
·         Kingdom (kerajaan)
·         Filum (divisi)
·         Kelas (classis)
·         Ordo (Bangsa),
·         Familia (Suku),
·         Genus (Marga), dan
·         Spesies (Jenis)

Klasifikasi makhluk hidup didasarkan pada persamaan dan perbedaan ciri yang dimiliki makhluk hidup, misalnya bentuk tubuh atau fungsi alat tubuhnya. Makhluk hidup yang memliliki ciri yang sama dikelompokkan dalam satu golongan. Contoh klasifikasi makhluk hidup adalah:
1.     Berdasarkan ukuran tubuhnya. Contoh: Tumbuhan dikelompokkan menjadi pohon, perdu, dan semak.
2.    Berdasarkan lingkungan tempat hidupnya. Contoh: Tumbuhan dikelompokkan menjadi tumbuhan yang hidup di lingkungan kering (xerofit), tumbuhan yang hidup di lingkungan air (hidrofit), dan tumbuhan yang hidup di lingkungan lembab (higrofit).
3.    Berdasarkan manfaatnya. Contoh: Tumbuhan dikelompokkan menjadi tanaman obat-obatan, tanaman sandang, tanaman hias, tanaman pangan dan sebagainya
4.   Berdasarkan jenis makanannya. Contoh: Hewan dikelompokkan menjadi hewan pemakan daging (karnivora), hewan pemakan tumbuhan (herbivora), dan hewan pemakan hewan serta tumbuhan (omnivora).

Setelah para ahli mengetahui struktur sel (susunan sel) secara pasti, makhluk hidup dikelompokkan menjadi empat kerajaan, yaitu Prokariot, Fungi, Plantae, dan Animalia, Pengelompokan ini berdasarkan ada tidaknya membran inti sel. Sel yang memiliki membran inti disebut sel eukariotik, sel yang tidak memiliki membran inti disebut sel prokariotik.
Pada tahun 1969 Robert H. Whittaker mengelompokkan makhluk hidup menjadi lima kingdom, yaitu Monera, Protista, Fungi, Plantae, dan Animalia. Pengelompokan ini berdasarkan pada susunan sel, cara makhluk hidup memenuhi makanannya, dan tingkatan makhluk hidup. Namun sistem ini kemudian diubah dengan dipecahnya kingdom monera menjadi kingdom Eubacteria dan Archaebacteria.
Beberapa jenis klasifikasi :
Pebedaan dasar yang digunakan dalam mengadakan klasifikasi tumbuhan memberikan hasil klasifikasi yang berbeda-beda sehingga dari masa ke masa melahirkan sistem klasifikasi yang berlainan juga. Menurut sejarahnya sistem klasifikasi tumbuhan dibedakan menjadi :

Periode sistem Habitus

Dalam periode ini sistem klasifikasinya didasarkan pada habitus, yaitu kesan keseluruhan yang nampak dari suatu tumbuhan. Berlangsung dari 300 SM hingga pertengahan abad ke-18, dengan pelopornya adalah Theopratus (370-385 SM). Menurut sistem ini tumbuhan digolongkan menjadi pohon, perdu, semak, dan herba. Para ahli filsafat dan penggemar alam pada periode ini adalah Albertus Magnus(1193-1280), Otto Brunfels(1464-1534), Jerome Bock (1489-1554), Andrea Caesalpinus (1519-1602), Jean Bauhin(1541-1631), Josseph Pitton De Turnefort (1656-1708), John Ray (1628-1705), dan lain-lainnya mengajukan gagasan-gagasan baru tentang dasar-dasar klasifikasi tumbuhan.

Periode sistem Numerik

Sistem klasifikasinya didasarkan pada jumlah-jumlah dan susunan alat kelamin tumbuhan. Disebut juga sistem seksual, penciptannya adalah Carolus Linnaeus (1707-1778). Linnaeus membagi tumbuhan menjadi 24 kelas antara lain monoandria (golongan tumbuhan dengan satu benang sari), diandria (golongan tumbuhan dengan dua benang sari), dan seterusnya. Tokoh-tokoh lain yang dikenal dalam periode ini adalah Peter Kalm (1716-1779), Fredrick Hasselquist (1723-1752), dan Peter Thunderg (1743-1828).

Periode sistem Klasifikasi Alami

Klasifikasi yang didasarkan pada hubungan kekerabatan yang ditunjukkan oleh banyaknya persamaan bentuk yang terlihat sehingga dapat disusun takson-takson yang bersifat alami. Sistem ini dikatakan alami karena dianggap mencerminkan keadaan sebenarnya seperti terdapat di alam. Kesadaran mengenai adanya hubungan kekerabatan disebabkan oleh bertambahnya ilmu pengetahuan tentang fungsi dan morfologi dari organ tumbuhan serta kemajuan ilmu pengetahuan optik, sehingga pengamatannya lebih seksama dibandingkan periode sebelumnya. Tokoh-tokoh terkemuka pada periode ini antara lain adalah Lamarck (1744-1829), Michel Adenson (1727-1826), dan Antonie Laurent de Jussieu (1748-1836) yang membagi tumbuhan menjadi Acotyledonae, monocotyledonae, dan dicotyledonae. Sistem de Jussie ini kemudian disempurnakan oleh tokoh-tokoh lain seperti Augustine Pyrame de Candole (1778-1884), Sir Joseph Dalton Hooker (1817-19) dan George Bentham (1800-1884). 

Periode Sistem Klasifikasi Buatan

Dibandingkan sistem klasifikasi secara alami, sistem klasifikasi buatan lebih baik, sempurna, dan mudah dipahami apabila dibandingkan sistem klasifikasi sebelumnya. Klasifikasi ini pertama kali diperkenalkan oleh Carl Von Linne (1707-1778) yang dikenal dengan nama Carolus Linnaeus, seorang ahli botani berkebangsaan Swedia. Beliau dinobatkan sebagai “Bapak Taksonomi”.
Klasifikasi makhluk hidup menurut Linnaeus didasarkan atas persamaan dan perbedaan struktur tubuh makhluk hidup, dengan cara-cara berikut. Misalnya: beracun atau berguna, piaraan atau liar, gulma atau sayuran.

Periode Sistem Klasifikasi Filogenetik

Diciptakan oleh Charles Darwin 1859, Menerbitkan buku tentang teori evolusi. Ia menyatakan bahwa persamaan struktur tubuh menunjukkan hubungan kekerabatan yang lebih dekat. Didasarkan urutan perkembangan makhluk hidup (Filogeni) serta mengetahui hubungan kekerabatan antara satu dengan yang lainnya. Klasifikasi yang didasarkan pada jauh dekatnya hubungan kekerabatan antara takson satu dengan takson lainnya. Sistem klasifikasinya didasarkan pada filogeni takson-takson dengan mengikut sertakan teori evolusi. Takson-takson yang dibentuk ditempatkan dengan urutan-urutan , yang diberi segi filogeni mempunyai tingkatan yang lebih rendah (primitif) sampai ke tingkatan yang tinggi (maju). Periode ini bertahan dari pertengahan abad 9 hingga sekarang, merupakan salah satu akibat logis timbulnya teori evolusi yang dipelopori oleh Jean Baptise Lamarck (1744-1824), disusul oleh Charles Darwin dengan karyanya On the Origin Of Species by Means of Natural Selection (1859). Tokoh-tokoh yang terkemuka pada periode ini antara lain August Wilhem Eichler (1839-1887), ia membagi tumbuhan menjadi Cyptogameae (thalophyta, bryophyta, pteridophyta) dan Phanerogamae (spermatophyta). Masing-masing golongan masih dibagi lagi menjadi takson-takson yang lebih rendah. Sistem ini kemudian disempurnakan lagi oleh tokoh-tokoh lain seperti Adolph Engler (1844-1930), Richard von Wettstein (1862-1931), Charles E. Bessey (1845-1915), dan Hans Hallier (1868-1932).

Periode Sistem Klasifikasi Kontemporer

Klasifikasi yang didasarkan pada pengkualitatifan data penelitian taksonomi dan penerapan matematika dalam pengolahan datanya. Sistem ini lahir akibat kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat dalam abad ke-20. Komputer telah digunakan secara luas dalam pengembangan metode kuantitatif dalam klasifikasi tumbuhan yang melahirkan bidang baru dalam taksonomi tumbuhan yaitu taksonomi numerik, taksometri, atau taksonometri. Taksometri numerik didefinisikan sebagai metode evaluasi kuantitatif mengenai kesamaan atau kemiripan sifat antar golongan organisme, dan penataan golongan-golongan itu melalui suatu analisis kelompok ke dalam kategori takson yang lebih tinggi atas dasar kesamaan-kesamaan tadi. Taksonomi numerik didasarkan atas bukti-bukti fenetik, artinya atas kemiripan yang diperlihatkan objek studi yang diamati dan dicatat, dan bukan atas dasar kemungkinan-kemungkinan perkembangan filogenetiknya. Kegiatan-kegiatan dalam taksonomi numerik bersifat empirik operasional, dan data serta kesimpulannya selalu dapat diuji kembali melalui observasi dan eksperimen. Langkah-langkah yang biasanya dilakukan dalam melaksanakan kegiatannya meliputi:
1. Pemilihan objek studi, yang dapat berupa individu, galus, varietas, jenis, dan seterusnya. Yang terpenting adalah setiap unit-unit yang dijadikan objek studi tersebut harus mewakili golongan organisme yang sedang diteliti.
2. Pemilihan ciri-ciri yang akan diberi angka atau skor. Jumlah ciri yang dipilih untuk pemberian angka harus cukup banyak, sekurang-kurangnya 50 ciri, yang masing-masing diberi kode dan selanjutnya disusun dalam bentuk tabel atau matriks.
3. Pengukuran kemiripan, dengan cara membandingkan tiap ciri pada masing-masing unit takson. Besarnya kemiripan akan berkisar dari 0 (tidak ada kemiripan) sampai 100 untuk keadaan persis sama (identik).
4. Analisis kelompok. Matriks kemiripan ditata kembali sehingga unit-unit takson yang memiliki kemiripan bersama yang paling tinggi dapat dikumpulkan menjadi satu. Kelompok-kelompok itu disebut fenon, dan dapat ditata secara hierarki dalam suatu diagram yang disebut dendogram.
5. Diskriminasi. Setelah klasifikasi dilakukan kita dapat menelaah kembali ciri-ciri yang dilibatkan dalam kegiatan ini, untuk menemukan ciri yang paling konstan, dan oleh karena paling bernilai untuk pembuatan kunci identifikasi dan diagnosis.


KESIMPULAN

Klasifikasi itu adalah suatu proses memilih dan mengelompokkan benda atau makhluk hidup tertentu serta diletakkan secara bersama – sama disuatu tempat yang memang sudah ditentukan. Agar manusia tidak mengalami kesulitan untuk mencari benda yang mereka cari maka dari itu klasifikasi sangat diperlukan dalam kehidupan sehari – hari. Klasifikasi makhluk hidup didasarkan pada persamaaan dan perbedaan ciri yang memiliki makhluk hidup, misalnya bentuk tubuh atau fungsi alat tubuhnya. Makhluk hidup yang memiliki ciri yang sama dikelompokkan dalam satu golongan. Klasifikasi selalu mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Klasifikasi pertama kali diperkenalkan oleh ahli Botani dari Swedia bernama Carolus Linneaus. Klasifikasi makhluk hidup berdasarkan kepada penampakan fisiknya. Periode sistem Habitus dalam periode ini sistem klasifikasinya didasarkan pada habitus, yaitu kesan keseluruhan yang nampak dari suatu tumbuhan, Periode sistem Numerik sistem klasifikasinya didasarkan pada jumlah - jumlah dan susunan alat kelamin tumbuhan. Disebut juga sistem seksual, penciptannya adalah Carolus Linnaeus, sistem Klasifikasi Alam sistem ini dikatakan alami karena dianggap mencerminkan keadaan sebenarnya seperti terdapat di alam, Periode Sistem Klasifikasi Filogenetik sistem klasifikasinya didasarkan pada filogeni takson-takson dengan mengikut sertakan teori evolusi, Periode Sistem Klasifikasi Kontemporer sistem ini lahir akibat kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat dalam abad ke-20.

SARAN
            Sebagai masyarakat sebaiknya bisa mempelajari klasifikasi agar bisa mengelompokkan benda atau makhluk hidup yang sama dan juga bisa memisahkan benda atau makhluk hidup yang tidak sama yang memang sudah dikelompokkan sejak awal. Sebenarnya semua masyarakat sudah melakukan klasifikasi setiap harinya tanpa mereka sadari. Dan juga mengetahui sejarah dan perkembangan klasifikasi makhluk hidup.

DAFTAR PUSTAKA
Sulistyo-Basuki. (1993). Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama

sitrabio. (2012, Oktober).  sistem klasifikasi secara umumDiakses 11 Februari 2017

Andri. (12, November). Sejarah Perkembangan Klasifikasi Makhluk Hidup. Diakses 11 Februari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar