SEJARAH DAN PERKEMBANGAN
KLASIFIKASI SECARA UMUM
KLASIFIKASI TUMBUHAN
Oleh:
Ni Putu Ratih Saptandari
1612311015 D3 Perpustakaan
ABSTRAK
Tugas ini dibuat bertujuan untuk memperkenalkan sejarah dan perkembangan
klasifikasi karena dengan adanya klasifikasi kita bisa membedakan benda atau
makhluk hidup apa yang memang sudah dikelompokkan sejak awal. Memudahkan
manusia mencari dan mengetahui apa yang memang sudah dikelompokkan. Dan bisa
mengumpulkan benda atau makhluk hidup yang sama, serta memisahkan benda atau
makhluk hidup yang tidak sama. Dimana klasifikasi sudah dilakukan manusia
setiap harinya karena klasifikasi adalah bagian dari manusia yang tanpa
disadari melakukan klasifikasi setiap hari. Maka dari itu klasifikasi sangat
penting ada dalam kehidupan agar manusia bisa mengkelompokkan sesuai jenis dan
sifat makhluk hidup.
Kata Kunci :
Pengertian Klasifikasi, Sejarah dan Perkembangan Klasifikasi Tumbuhan
LATAR BELAKANG
Klasifikasi adalah pengelompokkan makhluk hidup
golongan – golongan ini disusun secara runtut sesuai dengan tingkatannya. Mulai
dari yang lebih kecil tingkatannya hingga ke tingkatan yang lebih besar. Klasifikasi itu adalah suatu proses memilih dan mengelompokkan benda
tertentu serta diletakkan secara bersama – sama disuatu tempat yang memang
sudah ditentukan. Agar manusia tidak mengalami kesulitan untuk mencari benda
atau yang mereka cari maka dari itu klasifikasi sangat diperlukan dalam
kehidupan sehari – hari.
Klasifikasi
selalu mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Pada awalnya makhluk hidup hanya dikelompokkan menjadi dua kingdom (kerajaan),
yaitu plantea (tumbuhan) dan animalia (hewan). Jamur masih digolongkan kedalam
kelompok tumbuhan. Kemudian diketahui bahwa jamur ternyata tidak berklorofil
dan dinding selnya dari khatin, sedangkan tumbuhan dari sellulosa. Selanjutnya,
makhluk hidup dibedakan menjadi 3 kingdom, yaitu fungi (jamur), plantea dan
animalia. Sekitar 250 tahun lalu ahli botani asal Swedia Carolus Linnaeus
klasifikasi makhluk hidup berdasarkan kepada penampakan fisiknya. Sebelumnya
pun sudah ada metode klasifikasi namun tidak lengkap dan sebagus yang diusulkan
oleh Linneaus
Namun perkembangan pesat teori
evolusi terutama dengan berbagai penemuan fosil diabad lalu, makin menunjukkan
klasifikasi berdasar kemiripan dari Linneaus ini tidak cukup bagus lagi karena
adanya penemuan dari abad Willi Hennig, entomology dari Jerman 1990-an
memperkenalkan cladistik, suatu metode penentuan cabang dalam pohon kehidupan. Pengelompokan semua organisme hidup
oleh Carl von Linne (Latin: Carolus Linnaeus), dibuat tingkatan taksonomi yang terdiri dari enam takson. Setelah
para ahli mengetahui struktur sel (susunan sel) secara pasti, makhluk hidup
dikelompokkan menjadi empat kerajaan, yaitu Prokariot, Fungi, Plantae, dan
Animalia, Pengelompokan ini berdasarkan ada tidaknya membran inti sel. Sel yang
memiliki membran inti disebut sel eukariotik, sel yang tidak memiliki membran
inti disebut sel prokariotik.
Makhluk
hidup merupakan suatu organisme yang dapat mempertahankan dirinya dari berbagai
perubahan lingkungan dan dapat berkembangbiak untuk melestarikan jenisnya.
Pengertian Klasifikasi
Klasifikasi berasal dari kata Latin “classis”. Klasifikasi adalah proses
pengelompokan artinya mengumpulkan benda/entitas yang sama serta memisahkan
benda/entitas yang tidak Dapat dikatakan bahwa batasan klasifikasi adalah usaha
menata alam pengetahuan ke dalam tata urutan sistematis. Klasifikasi merupakan bagian kegiatan manusia. Manusia bernalar.
Untuk dapat melakukan penalaran, manusia harus memiliki kemampuan
mengklasifikasi. Untuk membedakan objek, manusia harus memvisualisasi atau
mengamat – amati objek. Klasifikasi itu
suatu proses memilih dan mengelompokkan benda atau makhluk hidup tertentu serta
diletakkan secara bersama – sama disuatu tempat yang memang sudah ditentukan.
Agar manusia tidak mengalami kesulitan untuk mencari benda atau yang mereka
cari maka dari itu klasifikasi sangat diperlukan dalam kehidupan sehari – hari.
Klasifikasi merupakan bagian kehidupan manusia.
Walaupun demikian banyak orang tidak menyadari bahwa mereka melakukan
pengklasifikasian setiap hari. Misalnya dalam membeli buah, manusia membedakan
buah jeruk dan buah apel yang memang dari awal sudah dikelompokkan agar kita
mudah untuk memilih buah tersebut.
Sejarah
dan perkembangan klasifikasi
Klasifikasi
selalu mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Pada awalnya makhluk hidup hanya dikelompokkan menjadi dua kingdom (kerajaan),
yaitu plantea (tumbuhan ) dan animalia (hewan). Jamur masih digolongkan kedalam
kelompok tumbuhan. Kemudian diketahui bahwa jamur ternyata tidak berklorofil
dan dinding selnya dari khatin, sedangkan tumbuhan dari sellulosa. Selanjutnya,
makhluk hidup dibedakan menjadi 3 kingdom, yaitu fungi (jamur), plantea dan
animalia.
1. Pada
zaman sebelum Aristoteles, taksonomi
ini belum tertulis sehingga di komunikasikan secara lisan saja. Dasar yang
digunakan untuk klasifikasi adalah hasil observasi dan kegunaan dari objek,
misalnya pengelompokan hewan berbahaya dengan hewan tidak berbahaya; hewan yang
berguna, tumbuhan obat-obatan, tumbuhan pangan dan lain sebagainya.
2. Zaman Aristoteles, pada zaman ini telah dimulai berupa ilmu, sudah muncul karya tulis mengenai hewan dan tumbuhan, mempunyai dasar yang jelas. Tetapi belum terorganisir, sehingga muncul suatu organisme sejenis dengan bermacam-macam nama (sebutan) dan jenis yang sama mempunyai nama yang berbeda.
2. Zaman Aristoteles, pada zaman ini telah dimulai berupa ilmu, sudah muncul karya tulis mengenai hewan dan tumbuhan, mempunyai dasar yang jelas. Tetapi belum terorganisir, sehingga muncul suatu organisme sejenis dengan bermacam-macam nama (sebutan) dan jenis yang sama mempunyai nama yang berbeda.
3. Pada abad
ke 17 John Ray, seorang ahli bangsa Inggris mulai mengembangkan sistim yang
lebih jelas dan lebih dapat dipercaya kebenarannya karena sudah mempunyai dasar
pengertian jenis (spesies). Jenis adalah kelompok individu yang serupa,
mempunyai yang sama; suatu jenis tidak
dihasilkan oleh jenis yang lain ; organisme memperlihatkan perbedaan yang kecil
dapat dimasukkan ke dalam suatu jenis yang berasal dari nenel moyang yang sama.
4. Pada abad
ke 18 Carolus Linneaus, seorang ahli bangsa Swedia mengembangkan sistem
klasifikasi John Ray. Menurut Linneaus yang dimaksud dengan spesies adalah
sekelompok organisme yang mempunyai bentuk tubuh, susunan alat gerak dan
susunan alat dalam yang sama, suatu spesies tidak akan pernah mengalami
perubahan.
5. Setelah
munculnya teori evolusi, maka klasifikasi dilakukan tidak hanya
berdasarkan persamaan strukturnya saja, tetapi juga berdasarkan atas asumsi
bagaimana suatu bentuk kehidupan itu berasal atau berevolusi dari bentuk
kehidupan yang lain. Di dalam teori evolusi sebenarnya telah termaktub suatu
gagasan bahwa organisme yang mempunyai struktur yang sama mempunyai hubungan
kekerabatan yang erat. Jadi persamaan struktur tetap dipergunakan sebagai dasar
pengelompokkan. Perbedaannya adalah sekarang ini orang menginterprestasikan
persamaan tersebut berdasarkan teori evolusi. Klasifikasi yang memasukkan teori
evolusi ini disebut klasifikasi filogeni.
Klasifikasi praktis yang berdasarkan kegunaan dan klasifikasi empiris yang berdasarkan pengamatan di lapangan (hewan air, hewan bertelur, hewan beranak, dll) masih banyak dipakai sampai sekarang sebagai klasifikasi regional atau nasional. Hal ini terbukti banyaknya buku yang ditulis khusus untuk membicarakan sekelompok organisme, seperti tanaman hortikultura, tanaman obat-obatan, serangga hama pada tanaman padi, dan lain-lain. Tetapi klasifikasi yang dipakai secara Internasional harus telah mempunyai tata cara ilmiah yang akan dipelajari pada pelajaran selanjutnya.
Seperti yang
telah diungkapkan pada awal bahasan ini, bahwa klasifikasi atau sistematik ini
hanya buatan manusia yang bertujuan untuk memudahkan dalam mempelajari
organisme yang ada di bumi ini, oleh karena itu klasifikasi yang ada lebih dari
satu.
Perbedaan
klasifikasi ini terjadi karena :
1. Sangat kompleknya keanekaragaman organisme yang diklasifikasikan
2. Dasar dan
tujuan dari klasifikasi yang berbeda
3.
Keterbatasan ilmu yang menyusun klasifikasi
4. Perbedaan
persepsi dan kebijaksanaan dalam menentukan ciri dan sifat yang digunakan untuk
dasar klasifikasi.
5.
Keterbatasan data yang dijumpai oleh si pembuat klasifikasi
6. Kemajuan
ilmu pengetahuan yang dapat menambah kelengkapan data. Pada klasifikasi
terakhir ini orang selalu mengaitkan pada keanekaragaman struktur morfologi,
anatomi, fisiologi, habitat dan evolusi.
Pada abad ke 18 (sekitar 250 tahun lalu), Carolus
Linnaeus, ahli Botani warga swedia, memperkenalkan klasifikasi makhluk hidup
berdasarkan kepada penampakan fisiknya. Sebelumnya pun sudah ada metode
klasifikasi namun tidak lengkap dan sebagus yang diusulkan oleh Linneaus.
Setiap organisme sejenis masuk dalam kelompok species, species kepada genus,
setiap genus ke family tertentu yang urutan klasifikasi dari atas : Kingdom, phylum, class, ordo family, genus,
species. Suatu yang khas terjadi pada masa itu, biology pun dicampur adukkan
dengan teologi, Linneaus pun pernah mengatakan “Tuhan menciptakan, Linneaus
mengklasifikasikan”. Kemudian munculah Darwin dengan teori evolusinya bahwa
kehidupan di Bumi ini berhubungan erat dengan pohon evolusi raksasa, dengan
organisme ber sel satu dibagian akarnya dan species yang survive di masa ini
ada di puncaknya. Antara akar dan puncak pohon terdapat jutaan (kalau tidak
milyaran) cabang yang menunjukkan masa – masa sejarah berkembangnya makhluk
hidup. Taxonomi dan Linneus ini pun tetap dipakai karena sistem klasifikasi
berdasar kemiripan ini sesuai dengan apa yang menjadi fakta evolusi juga :
makhluk hidup yang mirip cenderung ‘berkerabat dekat’.
Namun perkembangan pesat
teori evolusi terutama dengan berbagai penemuan fosil diabad lalu, makin
menunjukkan klasifikasi berdasar kemiripan dari Linneaus ini tidak cukup bagus
lagi. Misalnya Willi Hennig, entomology dari Jerman 1990-an memperkenalkan cladistik,
suatu metode penentuan cabang dalam pohon kehidupan.
Pengelompokan
semua organisme hidup oleh Carl von Linne (Latin: Carolus Linnaeus), dibuat
tingkatan taksonomi yang terdiri dari
enam takson, yaitu :
·
Kingdom (kerajaan)
·
Filum (divisi)
·
Kelas (classis)
·
Ordo (Bangsa),
·
Familia (Suku),
·
Genus (Marga),
dan
·
Spesies (Jenis)
Klasifikasi
makhluk hidup didasarkan pada persamaan dan perbedaan ciri yang dimiliki
makhluk hidup, misalnya bentuk tubuh atau fungsi alat tubuhnya. Makhluk hidup
yang memliliki ciri yang sama dikelompokkan dalam satu golongan. Contoh
klasifikasi makhluk hidup adalah:
1. Berdasarkan
ukuran tubuhnya. Contoh: Tumbuhan dikelompokkan menjadi pohon, perdu, dan
semak.
2. Berdasarkan
lingkungan tempat hidupnya. Contoh: Tumbuhan dikelompokkan menjadi tumbuhan
yang hidup di lingkungan kering (xerofit), tumbuhan yang hidup di lingkungan
air (hidrofit), dan tumbuhan yang hidup di lingkungan lembab (higrofit).
3. Berdasarkan
manfaatnya. Contoh: Tumbuhan dikelompokkan menjadi tanaman obat-obatan, tanaman
sandang, tanaman hias, tanaman pangan dan sebagainya
4. Berdasarkan
jenis makanannya. Contoh: Hewan dikelompokkan menjadi hewan pemakan daging
(karnivora), hewan pemakan tumbuhan (herbivora), dan hewan pemakan hewan serta
tumbuhan (omnivora).
Setelah
para ahli mengetahui struktur sel (susunan sel) secara pasti, makhluk hidup dikelompokkan
menjadi empat kerajaan, yaitu Prokariot, Fungi, Plantae, dan Animalia,
Pengelompokan ini berdasarkan ada tidaknya membran inti sel. Sel yang memiliki
membran inti disebut sel eukariotik, sel yang tidak memiliki membran inti
disebut sel prokariotik.
Pada tahun 1969 Robert H. Whittaker
mengelompokkan makhluk hidup menjadi lima kingdom, yaitu Monera, Protista,
Fungi, Plantae, dan Animalia. Pengelompokan ini berdasarkan pada susunan sel,
cara makhluk hidup memenuhi makanannya, dan tingkatan makhluk hidup. Namun
sistem ini kemudian diubah dengan dipecahnya kingdom monera menjadi kingdom
Eubacteria dan Archaebacteria.
Beberapa
jenis klasifikasi :
Pebedaan dasar yang digunakan dalam
mengadakan klasifikasi tumbuhan memberikan hasil klasifikasi yang
berbeda-beda sehingga dari masa ke masa melahirkan sistem klasifikasi yang
berlainan juga. Menurut sejarahnya sistem klasifikasi tumbuhan dibedakan menjadi :
Periode sistem Habitus
Dalam periode ini sistem
klasifikasinya didasarkan pada habitus, yaitu kesan keseluruhan yang nampak
dari suatu tumbuhan. Berlangsung dari 300 SM hingga pertengahan abad ke-18,
dengan pelopornya adalah Theopratus (370-385 SM). Menurut sistem ini tumbuhan
digolongkan menjadi pohon, perdu, semak, dan herba. Para ahli filsafat dan
penggemar alam pada periode ini adalah Albertus Magnus(1193-1280), Otto
Brunfels(1464-1534), Jerome Bock (1489-1554), Andrea Caesalpinus (1519-1602),
Jean Bauhin(1541-1631), Josseph Pitton De Turnefort (1656-1708), John Ray
(1628-1705), dan lain-lainnya mengajukan gagasan-gagasan baru tentang
dasar-dasar klasifikasi tumbuhan.
Periode
sistem Numerik
Sistem
klasifikasinya didasarkan pada jumlah-jumlah dan susunan alat kelamin tumbuhan.
Disebut juga sistem seksual, penciptannya adalah Carolus Linnaeus (1707-1778).
Linnaeus membagi tumbuhan menjadi 24 kelas antara lain monoandria (golongan
tumbuhan dengan satu benang sari), diandria (golongan tumbuhan dengan dua
benang sari), dan seterusnya. Tokoh-tokoh lain yang dikenal dalam periode ini
adalah Peter Kalm (1716-1779), Fredrick Hasselquist (1723-1752), dan Peter
Thunderg (1743-1828).
Periode sistem
Klasifikasi Alami
Klasifikasi
yang didasarkan pada hubungan kekerabatan yang ditunjukkan oleh banyaknya
persamaan bentuk yang terlihat sehingga dapat disusun takson-takson yang
bersifat alami. Sistem ini dikatakan alami karena dianggap mencerminkan keadaan
sebenarnya seperti terdapat di alam. Kesadaran mengenai adanya hubungan
kekerabatan disebabkan oleh bertambahnya ilmu pengetahuan tentang fungsi dan
morfologi dari organ tumbuhan serta kemajuan ilmu pengetahuan optik, sehingga
pengamatannya lebih seksama dibandingkan periode sebelumnya. Tokoh-tokoh
terkemuka pada periode ini antara lain adalah Lamarck (1744-1829), Michel
Adenson (1727-1826), dan Antonie Laurent de Jussieu (1748-1836) yang membagi
tumbuhan menjadi Acotyledonae, monocotyledonae, dan dicotyledonae. Sistem de
Jussie ini kemudian disempurnakan oleh tokoh-tokoh lain seperti Augustine
Pyrame de Candole (1778-1884), Sir Joseph Dalton Hooker (1817-19) dan George
Bentham (1800-1884).
Periode Sistem Klasifikasi Buatan
Dibandingkan sistem klasifikasi secara alami, sistem
klasifikasi buatan lebih baik, sempurna, dan mudah dipahami apabila
dibandingkan sistem klasifikasi sebelumnya. Klasifikasi ini pertama kali
diperkenalkan oleh Carl Von Linne (1707-1778) yang dikenal dengan nama Carolus
Linnaeus, seorang ahli botani berkebangsaan Swedia. Beliau dinobatkan sebagai “Bapak
Taksonomi”.
Klasifikasi
makhluk hidup menurut Linnaeus didasarkan atas persamaan dan perbedaan struktur
tubuh makhluk hidup, dengan cara-cara berikut. Misalnya: beracun atau berguna,
piaraan atau liar, gulma atau sayuran.
Periode Sistem
Klasifikasi Filogenetik
Diciptakan oleh Charles Darwin 1859, Menerbitkan buku tentang teori
evolusi. Ia menyatakan bahwa persamaan struktur tubuh menunjukkan hubungan kekerabatan
yang lebih dekat. Didasarkan urutan perkembangan makhluk hidup (Filogeni) serta
mengetahui hubungan kekerabatan antara satu dengan yang lainnya. Klasifikasi
yang didasarkan pada jauh dekatnya hubungan kekerabatan antara takson satu
dengan takson lainnya. Sistem klasifikasinya didasarkan pada filogeni
takson-takson dengan mengikut sertakan
teori evolusi. Takson-takson yang dibentuk ditempatkan dengan urutan-urutan ,
yang diberi segi filogeni mempunyai tingkatan yang lebih rendah (primitif)
sampai ke tingkatan yang tinggi (maju). Periode ini bertahan dari pertengahan
abad 9 hingga sekarang, merupakan salah satu akibat logis timbulnya teori
evolusi yang dipelopori oleh Jean Baptise Lamarck (1744-1824), disusul oleh
Charles Darwin dengan karyanya On the Origin Of Species by Means of Natural
Selection (1859). Tokoh-tokoh yang terkemuka pada periode ini antara lain
August Wilhem Eichler (1839-1887), ia membagi tumbuhan menjadi Cyptogameae
(thalophyta, bryophyta, pteridophyta) dan Phanerogamae (spermatophyta).
Masing-masing golongan masih dibagi lagi menjadi takson-takson yang lebih
rendah. Sistem ini kemudian disempurnakan lagi oleh tokoh-tokoh lain seperti
Adolph Engler (1844-1930), Richard von Wettstein (1862-1931), Charles E. Bessey
(1845-1915), dan Hans Hallier (1868-1932).
Periode Sistem Klasifikasi Kontemporer
Klasifikasi
yang didasarkan pada pengkualitatifan data penelitian taksonomi dan penerapan
matematika dalam pengolahan datanya. Sistem ini lahir akibat kemajuan ilmu
pengetahuan yang pesat dalam abad ke-20. Komputer telah digunakan secara luas
dalam pengembangan metode kuantitatif dalam klasifikasi tumbuhan yang
melahirkan bidang baru dalam taksonomi tumbuhan yaitu taksonomi numerik,
taksometri, atau taksonometri. Taksometri numerik didefinisikan sebagai
metode evaluasi kuantitatif mengenai kesamaan atau kemiripan sifat antar
golongan organisme, dan penataan golongan-golongan itu melalui suatu analisis
kelompok ke dalam kategori takson yang lebih tinggi atas dasar
kesamaan-kesamaan tadi. Taksonomi numerik didasarkan atas bukti-bukti fenetik,
artinya atas kemiripan yang diperlihatkan objek studi yang diamati dan dicatat,
dan bukan atas dasar kemungkinan-kemungkinan perkembangan filogenetiknya.
Kegiatan-kegiatan dalam taksonomi numerik bersifat empirik operasional, dan
data serta kesimpulannya selalu dapat diuji kembali melalui observasi dan
eksperimen. Langkah-langkah yang biasanya dilakukan dalam melaksanakan
kegiatannya meliputi:
1.
Pemilihan objek studi, yang dapat berupa individu, galus, varietas, jenis, dan
seterusnya. Yang terpenting adalah setiap unit-unit yang dijadikan objek studi
tersebut harus mewakili golongan organisme yang sedang diteliti.
2.
Pemilihan ciri-ciri yang akan diberi angka atau skor. Jumlah ciri yang dipilih
untuk pemberian angka harus cukup banyak, sekurang-kurangnya 50 ciri, yang
masing-masing diberi kode dan selanjutnya disusun dalam bentuk tabel atau
matriks.
3.
Pengukuran kemiripan, dengan cara membandingkan tiap ciri pada masing-masing
unit takson. Besarnya kemiripan akan berkisar dari 0 (tidak ada kemiripan)
sampai 100 untuk keadaan persis sama (identik).
4.
Analisis kelompok. Matriks kemiripan ditata kembali sehingga unit-unit takson
yang memiliki kemiripan bersama yang paling tinggi dapat dikumpulkan menjadi
satu. Kelompok-kelompok itu disebut fenon, dan dapat ditata secara hierarki
dalam suatu diagram yang disebut dendogram.
5.
Diskriminasi. Setelah klasifikasi dilakukan kita dapat menelaah kembali
ciri-ciri yang dilibatkan dalam kegiatan ini, untuk menemukan ciri yang paling
konstan, dan oleh karena paling bernilai untuk pembuatan kunci identifikasi dan
diagnosis.
KESIMPULAN
Klasifikasi itu adalah suatu proses memilih dan
mengelompokkan benda atau makhluk hidup tertentu serta diletakkan secara
bersama – sama disuatu tempat yang memang sudah ditentukan. Agar manusia tidak
mengalami kesulitan untuk mencari benda yang mereka cari maka dari itu
klasifikasi sangat diperlukan dalam kehidupan sehari – hari. Klasifikasi
makhluk hidup didasarkan pada persamaaan dan perbedaan ciri yang memiliki
makhluk hidup, misalnya bentuk tubuh atau fungsi alat tubuhnya. Makhluk hidup
yang memiliki ciri yang sama dikelompokkan dalam satu golongan. Klasifikasi selalu mengalami
perkembangan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Klasifikasi pertama
kali diperkenalkan oleh ahli Botani dari Swedia bernama Carolus Linneaus.
Klasifikasi makhluk hidup berdasarkan kepada penampakan fisiknya. Periode sistem Habitus dalam
periode ini sistem klasifikasinya didasarkan pada habitus, yaitu kesan
keseluruhan yang nampak dari suatu tumbuhan, Periode sistem Numerik sistem
klasifikasinya didasarkan pada jumlah - jumlah dan susunan alat kelamin
tumbuhan. Disebut juga sistem seksual, penciptannya adalah Carolus Linnaeus,
sistem Klasifikasi Alam sistem ini dikatakan alami karena dianggap mencerminkan
keadaan sebenarnya seperti terdapat di alam, Periode Sistem Klasifikasi Filogenetik
sistem klasifikasinya didasarkan pada filogeni takson-takson dengan mengikut
sertakan teori evolusi, Periode
Sistem Klasifikasi Kontemporer sistem
ini lahir akibat kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat dalam abad ke-20.
SARAN
Sebagai
masyarakat sebaiknya bisa mempelajari klasifikasi agar bisa mengelompokkan benda
atau makhluk hidup yang sama dan juga bisa memisahkan benda atau makhluk hidup
yang tidak sama yang memang sudah dikelompokkan sejak awal. Sebenarnya semua
masyarakat sudah melakukan klasifikasi setiap harinya tanpa mereka sadari. Dan
juga mengetahui sejarah dan perkembangan klasifikasi makhluk hidup.
DAFTAR
PUSTAKA
Sulistyo-Basuki. (1993). Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama
sitrabio.
(2012, Oktober). sistem klasifikasi secara umum. Diakses
11 Februari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar